Surat kedua dari Melidi
Kepada
Yth. Sahabat-sahabat setiaku
Di manapun berada
Salam sejahtera dan damai selalu……..
Apa khabar sahabat? Semoga kalian tetap baik-baik saja, bisa
terus berkarya melayani sesama! Amin……
Sahabat…..
Aku coba berbagi cerita lagi dari perjalanan sosial
spritualku ke Melidi.
Tanggal 18 Agustus kami berangkat dari Langsa dan singgah di
Kuala Simpang Aceh Tamiang untuk berbelanja logistik. Suasana kota Kuala Simpang hari itu sungguh hiruk
pikuk dengan kemeriahan peringatan kemerdekaan RI ke 62. Sekali lagi aku
tertegun dan bertanya dalam hati “apanya
yang patut dirayakan dengan penuh suka cita, sementara hampir 50 % rakyatnya
masih menjadi budak di negeri sendiri, tertindas, miskin dan papa?” Tapi aku
coba mengendalikan emosiku dengan membalas malas pekik merdeka yang diserukan
para peserta karnaval yang memacetkan perjalanan kami hampir 1 jam.
Sahabat…….
Rombongan perjalanan kami cukup banyak. Selain kami para
relawan pendidikan, turut pula tim kesehatan Aceh Timur yang akan memeriksa
spuctum/dahak warga yang suspect TB. Mereka ikut karena laporan kami tentang
meninggalnya 10 orang Melidi akibat TB telah membuat Dinas Kesehatan Aceh Timur
marah sekaligus menyangsikan laporan kami. Namun setelah pemeriksaan spuctum
dilakukan pada tanggal 19 Agustus terhadap 40 sampel ternyata ada 11 yang
positif TB. Mereka terhenyak, nyaris tak percaya dengan fakta yang mereka
jumpai sendiri. Kondisi tersebut jelas sudah melebihi indikator status kejadian
luar biasa (KLB). Mengapa bisa segawat
itu? Kompleksitas persoalan yang saling berkelindan seperti:
- belum ada rumah sebanyak 300 unit untuk warga 3 desa yaitu Melidi 166 unit, Tampor Paloh 98 unit, dan 36 unit untuk Tampor Boor. Sudah 8 bulan pasca banjir bandang mereka masih tinggal di tenda-tenda darurat yang kainnya sudah lapuk, pengab, dan dingin jika hujan atau malam datang.
- belum mempunyai sumber air bersih
- belum mempunyai sarana sanitasi seperti kamar mandi, jamban keluarga, dan saluran pembuangan air limbah sehingga alur sungai masih menjadi kamar mandi dan wc bagi semua orang
- belum ada layanan kesehatan yang memadai karena mantri kesehatan dan bidan desa terbatas persediaan obat, sarana transportasi dan tunjangan kesejahteraannya
- belum mempunyai tanah untuk tapak rumah karena tapak rumah mereka tertimbun lumpur banjir dan trauma jika harus kembali tinggal di pinggir sungai
- belum mempunyai mekanisme ketahanan pangan sehingga masih sangat tergantung “raskin/beras untuk orang miskin” karena lahan pertanian pangan masih sempit dan bantuan bibit belum ada kecuali sedikit bibit padi dari Sheep untuk masyarakat Melidi
- belum mempunyai sumber mata pencaharian baru selain membalak hutan
- belum mendapatkan perhatian nyata dari pemerintah nyaris dalam semua hal
Itulah ironi kemerdekaan………………..
Sahabat……..
Tanggal 20 Agustus kami memulai sekolah Merdeka. Ada 12 anak lulusan SD
yang menjadi teman belajar kami pada hari pertama. Pada awalnya mereka sangat
malu-malu, bahkan sekedar menyebut namanya sendiri nyaris tidak punya
kepercayaan diri. Kami memulai belajar bersama dengan perkenalan, membangun
harapan, dan kontrak belajar. Kami ingin anak-anak menjadi penentu atas apa
yang ia rasakan, ia pikirkan, ia inginkan, dan ia butuhkan. Game-game dalam
session perkenalan membuat suasana cair sehingga kami bisa masak air minum dan
biji cempedak bersama di saat istirahat. Jika capai belajar kami membentuk
lingkaran untuk saling memijit punggung. Sungguh kebahagiaan membuncah dalam
diriku. ……..
Sahabat ……..
Hari kedua jumlah anak bertambah 4 sehingga teman belajar
kami menjadi 16. Hari kedua dan ketiga kami belajar bahasa Arab, bahasa
Indonesia, matematika, IPA, IPS, dll secara integral melalui studi kasus dari
pengalaman keseharian anak-anak. Kami belajar di pokok kayu merbau besar yang
tumbang saat banjir bandang sambil menikmati rebusan biji cempedak menu utama
kami. Kami mulai dengan menulis pengalaman saat banjir datang hingga kehidupan
selama dalam pengungsian yang kemudian dibacakan secara bergiliran. Tak lupa
kami membuat simulasi banjir bandang dengan membuat gunung, hutan, sungai dan perkampungan penduduk dengan tanah,
ranting kayu dan rumput yang ada di pinggir sungai. Senang sekali kami meskipun badan dan pakaian penuh lumpur.
Setelah itu kami mencoba
mengidentifikasi persoalan, menganalisa sebab akibatnya dan mencoba mengambil
hikmah dari peristiwa itu. Luar biasa….anak-anak kawan belajarku itu ternyata
mempunyai kemampuan analisis yang paten. Aku terpesona dibuatnya…… Coba simak
dialog kami:
Johansyah (anak Tampor Boor): “pak, ternyata penebangan
hutan yang menyebabkan gunung gundul sehingga air hujan berubah menjadi banjir.
Sungguh kami telah berbuat salah”
(ekspresinya memelas)
Ust. Ali : “Kenapa kamu sedih nak?”
Johansyah : “saya ikut membalak kayu karena itulah
satu-satunya pekerjaan keluarga kami dan juga penduduk lainnya”
Iswantara: “Nak, ini bukan soal salah dan benar. Menebang
kayu boleh-boleh saja tetapi….”
Said Rabudin (anak Tampor Paloh): “ya menebang kayu boleh
karena kita butuh rumah dan kayu bakar, juga untuk membuat boat. Yang tidak
boleh adalah menjual kepada toke kayu dari Medan karena banjirnya mereka tidak ikut merasakan.
Kami susah, mereka kaya”
Sahabat……
Kesadaran kritis itu kini telah mulai bersemi. Kami harus
terus memupuknya. Kami kini berani membangun mimpi tentang masa depan yang
indah karena kami kompak dan mau belajar
serta bekerja keras. Yel-yel kami…..
Anak Merdeka….
Tidak malu!.
Tidak takut!
Tidak malas!
Tetap semangat!
Merdeka !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Sahabat…………….
Orang tua anak-anak dengan semangat tinggi saat ini tengah membangun
2 ruang belajar dengan alasan “agar pak guru tidak kepanasan dan
kehujanan”. Kami terharu karena di
tengah penderitaan akibat banjir bandang mereka masih memikirkan kami yang
sebenarnya datang terpanggil oleh karena penderitaan mereka. Sungguh mereka
telah menjadi orang yang paling kaya meski tak berpunya karena alam maha kaya
dan mereka selalu bersahabat dengan alam itu. Coba simak Nyanyian Anak Merdeka
yang menjadi mars “sekolah” kami dan beberapa orang tua juga sering ikut menyanyikannya:
Aku ini anak merdeka
Tak berpunya tapi merasa kaya
Semua di dunia milik bersama
Tuk dibagi sama adil dan
merata
Kubawa-bawa matahariku
Kubagi-bagi layaknya ubi
Agar semua merasa bahagia
Sahabat……..
Doakan kami agar tetap istiqomah dalam berjuang mengentaskan
kebodohan dan kemiskinan yang mendera sebagian anak negeri ini! Selain
doa, kami sungguh mengajakmu untuk
terlibat dalam karya nyata, bermandi peluh dan lumpur untuk berbagi rasa demi
membangun asa bersama.
Sahabat ………
Sekian dulu surat
dari saya. Aku besok 29 Agustus hingga 2 September akan balik ke Melidi. Aku
berjanji akan selalu menulis surat
untuk kalian. Semoga ada learning point yang bisa kita petik bersama dari
cerita perjalananku…….
Merdeka!!!!!!!!!!!!
Langsa, 28 Agustus 2007
Salam persahabatan dan perdamaian
Iswantara Adi Nugraha
Tidak ada komentar:
Posting Komentar