بسم
الله الرحمن الرحيم
Dari tampor paloh waktu itu
Sekolahku letaknya di daerah terpencil untuk sampai kesana aku harus
menempuh jarak yang cukup jauh dan lama. Kalau mengingat perjalanannya mungkin
aku malas untuk pergi, tapi jika sudah sampai ke sekolahku dan melihat
anak-anak didikku pasti segalanya akan berubah.
Gedung
sekolahku hanya papan biasa kotak tanpa
jendela kaca,tanpa lantai keramik dan plafon.kursi dan bangku hanya seadanya
saja,tapi kamu pasti tidak akan pernah melihat anak-anak yang patuh dan
semangat seperti mereka di sekolah yang lain.
Walau
murud-murudnya tidak memakai seragam dan sepatu tapi di sekolah yang ada di kota. Pengabdian
tidak mengenal tempat dan waktu, karena aku punya mimpi untuk anak didikku dan
sekolahku. Aku ingin melihat mereka jadi generasi penerus yang cerdas dan tidak
ada lagi anak-anak yang tidak bersekolah didesa ini.
Kalau kamu melihat lamanya Indonesia merdeka mungkin kamu tidak
menyangka masih ada anak-anak yang belum biasa bersekolah hanya karena desanya
yang terpencil.
SMP MERDEKA “katanya…”
Nopember 2008
Seminggu pertama di tampor paloh,kami masih belajar di ruangan yang
berdebu, tidak ada bangku dan meja, kami di tikar dan anak-anak masih duduk
berdesak-desakan. Kelas 1dan 2 masih digabung, muridnya pun datang bergantian
yang datang hari ini besok tidak hadir lagi begitulah sampai hari terakhir kami
disini.
Desember 2008
Kelas sudah mulai kami pisah, tapi masih lesehan seperti biasa. Kelas 1
hanya 8 murid dan kelas 2 ada 12 orang murid. Seminggu disini kami porsir
anak-anak untuk bisa menghadapi ujian semester. Minggu pertama khusus materi
ujian, seminggu berikutnya ujian. Kami berharap anak-anak mampu mengingat
materi pelajaran yang sedikit itu. Tapi ketika ujian berlangsung semuanya di
luar target, karena tidak ada jawaban mereka yang benar, semuanya seperti tidak
pernah di pelajari. Timbul tanda Tanya besar di kepala kami mereka malas, bodoh
atau tidakklah minat untuk sekolah???
Desember 2008
Masih belum ada perubahan apapun, tapi ada peningkatan sedikit. Kami
tidak perlu lagi memanggil mereka untuk sekolah. Setidaknya mereka sudah rajin
pergi sekolah walaupun daya tangkap mereka masih sangat kurang.
Januari 2009
Perubahan besar-besaran kami lakukan, kami tinggal disini hampir tiga
minggu. Kawan-kawan di Sheep memberi bantuan dana untuk pembuatan meja, bangku
dan semen untuk lantai kelas. Sekarang sekolah kami semakin indah, dan terlihat
lebih layak disebut sekolah.
Anak-anak sangat semangat dalam belajar mereka semakin kritis terutama
murid kelas 2. Setiap selasa pagi kami senam, absen mulai diaktifkan,jam
pelajaran layaknya sekolah di kota. Kami senang dan tambah semangat melihat
perubahan pada anak-anak.
Sebenarnya kami lelah dan capek karena mesti mengajar dari pagi sampai
siang. Tapi jika kita punya mimpi yang sama pasti semuanya terasa gampang dan
menyenangkan.
Pebruari 2009
15
hari disini kami semakin giat untuk menarik minat anak-anak bersekolah. Selain
mengaji setiap hari jumat anak-anakpun sudah pintar baca selawat. Kami tambah
lagi acara sarapan bersama setiap hari senin, walau hanya segelas bubur kacang
ijo campur susu kami berharap mereka dapat tambahan gizi walau cuma sedikit.
Ruang kelas kami isi dengan kosakata dan sebuah peta. Kami sediakan
buku-buku bacaan dan mading. Kami ingin sekali melihat suatu hari kelak mereka
bisa mendobrak kebodohan orang-orang di kampungnya.
Maret 2009
Berangkat kali ini sangat tidak menyenangkan, rasa takut di bot karena
sungainya pasang membuat perjalanan sangat tidak nyaman. Di batu katak airnya
sangat mengerikan lalu hujan lebat menambah seram suasana di bot. Sampai di rumah
lebih menyakitkan lagi. Kamar kami di obrak abrik kasurnya nyaris tidak bisa di
pakai lagi karena di tumpahi tinta,obat,lem dan entah apa lagi. Radio kesayangan
yang sering digunakan untuk raktek mendengar berita anak anak kelas 2 di belah
pulpen dan spidol berserakan dan berantakan hampir semuanya tidak bisa di
pergunakan lagi. Kamar begitu bau karena ada air rendaman entah berantah,
kompor kami di isi dengan minyak makan. Lengkap sudah kekesalan kami kali ini.
Kamu mau tau siapa pelakunya? 2 anak kecil yang baru kelas 1SD dari
keluarga yang sama. Entahlah benar dia pelakunya atau dia cuma korban, yang pasti hal ini sudah diselesaikan oleh tetua
kampung. Apa benar-benar selesai ?
Heran baru kali ini aku melihat ada orang kampung yang
sangat tidak amanah dan anak sekecil itu punya kelakuan yang sangat aneh.
Mungkin ini tantangan bagi kami atau ini teguran dari Allah. Yang pasti ini
untuk ke 3 kalinya terjadi di kampung ini dan ke 2 kalinya terjadi di kamar
kami. Hebat….
Maret 2009
Maret ini di TP.Paloh betul-betul
membuat kami tidak betah. Kami naik kesana sudah mempersiapkan banyak kejutan
untuk anak-anak. Karena pada bulan ini kami akan mengadakan banyak perlombaan
untuk memperingati Maulid Nabi, tapi malah seperti ini tanggapan masyarakat.
Setelah acara maulid yang sangat meriah selesai keesokan harinya terjadi hal
yang tidak kami iginkan. Anak lajang merusak lapangan volley kami netnya di
koyak-koyak tiangnya di hancurkan sekolah kami di lempari. Masalahnya sepele
cuma karena berebut lapangan volley dengan murid kami dan mereka minta net
padaku tidak kuberi dan inilah yang anak lajang lakukan. Suatu hal yang tidak
masuk akal bagiku manusia dewasa tapi tingkahnya seperti anak kecil yang tidak
di penuhi permintaannya lalu mengamuk tanpa terkendali. Sepanjang malam aku
hanya menangis, aku tidak siap mental melihat temperamen masyarakat yang
seperti itu. Akhirnya keesokan paginya kami langsung pulang untuk menghindari
konflik yang lebih besar lagi. Kami pamit pada anak-anak kami katakan yang
sesungguhnya kami rasakan atas kejadian kemarin. Anak-anak menangis mereka
takut kami tidak akan kembali lagi ke sekolah mereka, ini pembelajaran bagi
kami dan anak-anak.
April 2009
Kami naik lagi ke tampur, suasana sudah membaik. Oran tua siswa pun
merasa sangat senang. Esoknya anak-anak bersekolah seperti biasa. Setiap
selesai jam sekolah kami habiskan di sungai, agar hilang rasa suntuk dan agar
kami betah disini.
Mei 2009
Kami baru tau ternyata kasus yang terjadi pada bulan maret kemarin,membuat
mereka sadar pentingnya sekolah ini dan keberadaan kami disini. Sepulangnya
kami dari sini kemarin itu,ibu-ibu melihat anak-anaknya menangis karena takut
sekolahnya di tutup,mereka langsung mendatangi ketua yayasan dan protes. Mereka
mengancam jika sekolah ini ditutup mereka akan menuntut orang yang membuat onar
itu. kata pak Hasbi para ibu itu juga menangis pada waktu itu dan memarahi nak
lajang dengan kata kata.. “kalau sampai ibu dan bapak itu gak naik lagi biar
anak aku kau yang ajar ya dan marah kepada anak lajang itu..biar kau tau..”.
Malamnya masyarakat langsung mengadakan pertemuan dan membahas masalah
ini. Para pemuda membuat perjanjian tertulis dengan aparat desa bahwa hal
seperti ini tidak akan terjadi lagi. Inilah pelajaran bagi orang yang suka
seenaknya. Dalam kasus ini anak-anak belajar untuk bertanggung jawab, pemuda
bisa lebih dewasa lagi, dan kami harus lebih bijaksana.
Mei 2009
Persiapan ujian kenaikan kelas bagi anak-anak agar sukses. Semuanya masih
baik-baik saja. 12 hari disini kami benar-benar ingin agar anak-anak lebih
bagus lagi prestasinya. Mereka sudah jauh lebih pintar dan tambah semangat.
Juni 2009
Ujian tiba aku bahagia budaya nyontek yang ada pada mereka sudah hilang.
Mereka mulai mau belajar untuk percaya pada kemampuan dirinya sendiri. Libur
panjangpun tiba,para guru mengikuti pelatihan pendidikan damai. Anak-anak
mengisi liburan dengan kegiatannya masing-masing. Tapi banyak yang bekerja untuk
mencari uang sendiri. Aku bangga memiliki anak didik seperti mereka.
Juli 2009
Liburan sudah berakhir kami kembali kesekolah dan murid kami bertambah 7
orang lagi. Mereka anak kelas 1 enam siswa dari desa ini dan satu dari melidi.
Aku senang murid baru kali ini jauh lebih baik kualitasnya setidaknya
membacanya lancar,menulisnya benar dan bagus. Mereka semangat sekali
pengetahuannyapun lumayan,tapi kelas kami masih terbatas terpaksa murid kelas 1
masuk siang dan pada malam hari kami mengajar ibu-ibu menulis dan membaca. Aku
semakin cinta pada desa ini karena masyarakatnya sudah mulai tau bahwa
pendidikan itu penting. Aku berharap tidak ada rintangan besar yang menghadang
kami nanti.
Kebetulan hari terakhir kami disini ada acara israk mi'raj,anak-anak
mengantar makanan begitu banyak kerumah kami. Ternyata masyarakat didesa ini
jika hidupnya makmur mereka tidak pelit dan sangat suka memberi. Dan kebetulan
juga mereka baru saja panen padi jadi hidup mereka sudah jauh lebih baik di banding
beberapa bulan yang lalu,saat kami baru tiba disini. Kalau mereka tidak lagi
menebang pohon sembarangan di hutan dan lebih giat bertani aku yakin kampung
ini akan makmur dan tidak miskin lagi.
Ada
satu hal lagi yang membuatku sangat terharu,pada malam sabtu kemarin kami di
undang makan oleh salah satu wali murid. Kami disuguhi nasi dan satu piring
ikan sambal,keluarga ini sangat miskin mereka cuma punya dua lampu minyak dan
lantai rumahnya masih belum di semen. Aku berpikir apa mereka sudah makan
karena ketika kami datang makanan sudah terhidang dan hanya bapaknya yang
menemani makan.
Inilah anak yang menjadi konsen kami saat ini
Sofyansah :
Rajin banget sekolah tapi masih membutuhkan banyak
dukungan.
Sawaluddin : Awalnya dia anak yang sulit banget
nangkap pelajaran dan
cenderung suka nyontek,tapi perubahan besar terjadi pada
dia disemester ini dia mampu meraih predikat keempat di
kelasnya.
Agustus 2009
Semakin
hari anak-anak semakin rajin dan pintar,walaupun masih ada juga yang malas
sekolah dengan alasan yang tidak masuk akal.karena bulan ini kita menyambut
hari kemerdekaan,jadi anak-anak membuat madding bersama-sama dari kelas satu
sampek kelas tiga.
September 2009
Awal
September kami mengadakan pesantren ramadhan selama 10 hari. Cukup menyenangkan
walaupun agak capek mengambil air karena ini musim kemarau. Tapi sayang anak-anak
disana walaupun tau shalat itu wajib tapi tidak mau mengerjakannya. Banyak
perubahan yang terjadi di masyarakat mereka sudah berbuka tepat pada waktunya.
Salam kami..
kesederhanaan adalah karakteristik siswa
siswa-siswi smp Merdeka
Tidak ada komentar:
Posting Komentar