Translate

Minggu, 03 Maret 2013

catatan bu Mahda


بسم الله الرحمن الرحيم


Dari tampor paloh waktu itu

         Sekolahku letaknya di daerah terpencil untuk sampai kesana aku harus menempuh jarak yang cukup jauh dan lama. Kalau mengingat perjalanannya mungkin aku malas untuk pergi, tapi jika sudah sampai ke sekolahku dan melihat anak-anak didikku pasti segalanya akan berubah.
         Gedung sekolahku hanya papan biasa  kotak tanpa jendela kaca,tanpa lantai keramik dan plafon.kursi dan bangku hanya seadanya saja,tapi kamu pasti tidak akan pernah melihat anak-anak yang patuh dan semangat seperti mereka di sekolah yang lain.
          Walau murud-murudnya tidak memakai seragam dan sepatu tapi di           sekolah yang ada di kota. Pengabdian tidak mengenal tempat dan waktu, karena aku punya mimpi untuk anak didikku dan sekolahku. Aku ingin melihat mereka jadi generasi penerus yang cerdas dan tidak ada lagi anak-anak yang tidak bersekolah didesa ini.
            Kalau kamu melihat lamanya Indonesia merdeka mungkin kamu tidak menyangka masih ada anak-anak yang belum biasa bersekolah hanya karena desanya yang terpencil.           



                          SMP MERDEKA  “katanya…”
Nopember 2008
           Seminggu pertama di tampor paloh,kami masih belajar di ruangan yang berdebu, tidak ada bangku dan meja, kami di tikar dan anak-anak masih duduk berdesak-desakan. Kelas 1dan 2 masih digabung, muridnya pun datang bergantian yang datang hari ini besok tidak hadir lagi begitulah sampai hari terakhir kami disini.

Desember 2008
            Kelas sudah mulai kami pisah, tapi masih lesehan seperti biasa. Kelas 1 hanya 8 murid dan kelas 2 ada 12 orang murid. Seminggu disini kami porsir anak-anak untuk bisa menghadapi ujian semester. Minggu pertama khusus materi ujian, seminggu berikutnya ujian. Kami berharap anak-anak mampu mengingat materi pelajaran yang sedikit itu. Tapi ketika ujian berlangsung semuanya di luar target, karena tidak ada jawaban mereka yang benar, semuanya seperti tidak pernah di pelajari. Timbul tanda Tanya besar di kepala kami mereka malas, bodoh atau tidakklah minat untuk sekolah???


Desember 2008
            Masih belum ada perubahan apapun, tapi ada peningkatan sedikit. Kami tidak perlu lagi memanggil mereka untuk sekolah. Setidaknya mereka sudah rajin pergi sekolah walaupun daya tangkap mereka masih sangat kurang.

Januari 2009
            Perubahan besar-besaran kami lakukan, kami tinggal disini hampir tiga minggu. Kawan-kawan di Sheep memberi bantuan dana untuk pembuatan meja, bangku dan semen untuk lantai kelas. Sekarang sekolah kami semakin indah, dan terlihat lebih layak disebut sekolah.
            Anak-anak sangat semangat dalam belajar mereka semakin kritis terutama murid kelas 2. Setiap selasa pagi kami senam, absen mulai diaktifkan,jam pelajaran layaknya sekolah di kota. Kami senang dan tambah semangat melihat perubahan pada anak-anak.
            Sebenarnya kami lelah dan capek karena mesti mengajar dari pagi sampai siang. Tapi jika kita punya mimpi yang sama pasti semuanya terasa gampang dan menyenangkan.

Pebruari 2009
             15 hari disini kami semakin giat untuk menarik minat anak-anak bersekolah. Selain mengaji setiap hari jumat anak-anakpun sudah pintar baca selawat. Kami tambah lagi acara sarapan bersama setiap hari senin, walau hanya segelas bubur kacang ijo campur susu kami berharap mereka dapat tambahan gizi walau cuma sedikit.
             Ruang kelas kami isi dengan kosakata dan sebuah peta. Kami sediakan buku-buku bacaan dan mading. Kami ingin sekali melihat suatu hari kelak mereka bisa mendobrak kebodohan orang-orang di  kampungnya.

Maret 2009
             Berangkat kali ini sangat tidak menyenangkan, rasa takut di bot karena sungainya pasang membuat perjalanan sangat tidak nyaman. Di batu katak airnya sangat mengerikan lalu hujan lebat menambah seram suasana di bot. Sampai di rumah lebih menyakitkan lagi. Kamar kami di obrak abrik kasurnya nyaris tidak bisa di pakai lagi karena di tumpahi tinta,obat,lem dan entah apa lagi. Radio kesayangan yang sering digunakan untuk raktek mendengar berita anak anak kelas 2 di belah pulpen dan spidol berserakan dan berantakan hampir semuanya tidak bisa di pergunakan lagi. Kamar begitu bau karena ada air rendaman entah berantah, kompor kami di isi dengan minyak makan. Lengkap sudah kekesalan kami kali ini.
                 Kamu mau tau siapa pelakunya? 2 anak kecil yang baru kelas 1SD dari keluarga yang sama. Entahlah benar dia pelakunya atau dia cuma korban, yang  pasti hal ini sudah diselesaikan oleh tetua kampung. Apa benar-benar selesai ?
Heran baru kali ini aku melihat ada orang kampung yang sangat tidak amanah dan anak sekecil itu punya kelakuan yang sangat aneh. Mungkin ini tantangan bagi kami atau ini teguran dari Allah. Yang pasti ini untuk ke 3 kalinya terjadi di kampung ini dan ke 2 kalinya terjadi di kamar kami. Hebat….

Maret 2009
                Maret ini di TP.Paloh betul-betul membuat kami tidak betah. Kami naik kesana sudah mempersiapkan banyak kejutan untuk anak-anak. Karena pada bulan ini kami akan mengadakan banyak perlombaan untuk memperingati Maulid Nabi, tapi malah seperti ini tanggapan masyarakat. Setelah acara maulid yang sangat meriah selesai keesokan harinya terjadi hal yang tidak kami iginkan. Anak lajang merusak lapangan volley kami netnya di koyak-koyak tiangnya di hancurkan sekolah kami di lempari. Masalahnya sepele cuma karena berebut lapangan volley dengan murid kami dan mereka minta net padaku tidak kuberi dan inilah yang anak lajang lakukan. Suatu hal yang tidak masuk akal bagiku manusia dewasa tapi tingkahnya seperti anak kecil yang tidak di penuhi permintaannya lalu mengamuk tanpa terkendali. Sepanjang malam aku hanya menangis, aku tidak siap mental melihat temperamen masyarakat yang seperti itu. Akhirnya keesokan paginya kami langsung pulang untuk menghindari konflik yang lebih besar lagi. Kami pamit pada anak-anak kami katakan yang sesungguhnya kami rasakan atas kejadian kemarin. Anak-anak menangis mereka takut kami tidak akan kembali lagi ke sekolah mereka, ini pembelajaran bagi kami dan anak-anak.

April 2009
             Kami naik lagi ke tampur, suasana sudah membaik. Oran tua siswa pun merasa sangat senang. Esoknya anak-anak bersekolah seperti biasa. Setiap selesai jam sekolah kami habiskan di sungai, agar hilang rasa suntuk dan agar kami betah disini.

Mei 2009
             Kami baru tau ternyata kasus yang terjadi pada bulan maret kemarin,membuat mereka sadar pentingnya sekolah ini dan keberadaan kami disini. Sepulangnya kami dari sini kemarin itu,ibu-ibu melihat anak-anaknya menangis karena takut sekolahnya di tutup,mereka langsung mendatangi ketua yayasan dan protes. Mereka mengancam jika sekolah ini ditutup mereka akan menuntut orang yang membuat onar itu. kata pak Hasbi para ibu itu juga menangis pada waktu itu dan memarahi nak lajang dengan kata kata.. “kalau sampai ibu dan bapak itu gak naik lagi biar anak aku kau yang ajar ya dan marah kepada anak lajang itu..biar kau tau..”.
                 Malamnya masyarakat langsung mengadakan pertemuan dan membahas masalah ini. Para pemuda membuat perjanjian tertulis dengan aparat desa bahwa hal seperti ini tidak akan terjadi lagi. Inilah pelajaran bagi orang yang suka seenaknya. Dalam kasus ini anak-anak belajar untuk bertanggung jawab, pemuda bisa lebih dewasa lagi, dan kami harus lebih bijaksana.

Mei 2009
             Persiapan ujian kenaikan kelas bagi anak-anak agar sukses. Semuanya masih baik-baik saja. 12 hari disini kami benar-benar ingin agar anak-anak lebih bagus lagi prestasinya. Mereka sudah jauh lebih pintar dan tambah semangat.

Juni 2009
            Ujian tiba aku bahagia budaya nyontek yang ada pada mereka sudah hilang. Mereka mulai mau belajar untuk percaya pada kemampuan dirinya sendiri. Libur panjangpun tiba,para guru mengikuti pelatihan pendidikan damai. Anak-anak mengisi liburan dengan kegiatannya masing-masing. Tapi banyak yang bekerja untuk mencari uang sendiri. Aku bangga memiliki anak didik seperti mereka.

Juli 2009
            Liburan sudah berakhir kami kembali kesekolah dan murid kami bertambah 7 orang lagi. Mereka anak kelas 1 enam siswa dari desa ini dan satu dari melidi. Aku senang murid baru kali ini jauh lebih baik kualitasnya setidaknya membacanya lancar,menulisnya benar dan bagus. Mereka semangat sekali pengetahuannyapun lumayan,tapi kelas kami masih terbatas terpaksa murid kelas 1 masuk siang dan pada malam hari kami mengajar ibu-ibu menulis dan membaca. Aku semakin cinta pada desa ini karena masyarakatnya sudah mulai tau bahwa pendidikan itu penting. Aku berharap tidak ada rintangan besar yang menghadang kami nanti.
             Kebetulan hari terakhir kami disini ada acara israk mi'raj,anak-anak mengantar makanan begitu banyak kerumah kami. Ternyata masyarakat didesa ini jika hidupnya makmur mereka tidak pelit dan sangat suka memberi. Dan kebetulan juga mereka baru saja panen padi jadi hidup mereka sudah jauh lebih baik di banding beberapa bulan yang lalu,saat kami baru tiba disini. Kalau mereka tidak lagi menebang pohon sembarangan di hutan dan lebih giat bertani aku yakin kampung ini akan makmur dan tidak miskin lagi.
             Ada satu hal lagi yang membuatku sangat terharu,pada malam sabtu kemarin kami di undang makan oleh salah satu wali murid. Kami disuguhi nasi dan satu piring ikan sambal,keluarga ini sangat miskin mereka cuma punya dua lampu minyak dan lantai rumahnya masih belum di semen. Aku berpikir apa mereka sudah makan karena ketika kami datang makanan sudah terhidang dan hanya bapaknya yang menemani makan.
Inilah anak yang menjadi konsen kami saat ini
Sofyansah  : Rajin banget sekolah tapi masih membutuhkan banyak   
                     dukungan.
Sawaluddin : Awalnya dia anak yang sulit banget nangkap pelajaran dan
                      cenderung suka nyontek,tapi perubahan besar terjadi pada
                      dia disemester ini dia mampu meraih predikat keempat di
                      kelasnya. 

Agustus 2009
         Semakin hari anak-anak semakin rajin dan pintar,walaupun masih ada juga yang malas sekolah dengan alasan yang tidak masuk akal.karena bulan ini kita menyambut hari kemerdekaan,jadi anak-anak membuat madding bersama-sama dari kelas satu sampek kelas tiga.


September 2009
          Awal September kami mengadakan pesantren ramadhan selama 10 hari. Cukup menyenangkan walaupun agak capek mengambil air karena ini musim kemarau. Tapi sayang anak-anak disana walaupun tau shalat itu wajib tapi tidak mau mengerjakannya. Banyak perubahan yang terjadi di masyarakat mereka sudah berbuka tepat pada waktunya.



Salam kami..








                                                           kegiatan pesantren Ramadhan
                                               kesederhanaan adalah karakteristik siswa
                                                                 siswa-siswi smp Merdeka

Kamis, 28 Februari 2013

surat buat teman


Surat kedua dari Melidi

Kepada
Yth. Sahabat-sahabat setiaku
Di manapun berada

Salam sejahtera dan damai selalu……..
Apa khabar sahabat? Semoga kalian tetap baik-baik saja, bisa terus berkarya melayani sesama! Amin……

Sahabat…..
Aku coba berbagi cerita lagi dari perjalanan sosial spritualku ke Melidi.
Tanggal 18 Agustus kami berangkat dari Langsa dan singgah di Kuala Simpang Aceh Tamiang untuk berbelanja logistik. Suasana kota Kuala Simpang hari itu sungguh hiruk pikuk dengan kemeriahan peringatan kemerdekaan RI ke 62. Sekali lagi aku tertegun dan bertanya dalam hati  “apanya yang patut dirayakan dengan penuh suka cita, sementara hampir 50 % rakyatnya masih menjadi budak di negeri sendiri, tertindas, miskin dan papa?” Tapi aku coba mengendalikan emosiku dengan membalas malas pekik merdeka yang diserukan para peserta karnaval yang memacetkan perjalanan kami hampir 1 jam.

Sahabat…….
Rombongan perjalanan kami cukup banyak. Selain kami para relawan pendidikan, turut pula tim kesehatan Aceh Timur yang akan memeriksa spuctum/dahak warga yang suspect TB. Mereka ikut karena laporan kami tentang meninggalnya 10 orang Melidi akibat TB telah membuat Dinas Kesehatan Aceh Timur marah sekaligus menyangsikan laporan kami. Namun setelah pemeriksaan spuctum dilakukan pada tanggal 19 Agustus terhadap 40 sampel ternyata ada 11 yang positif TB. Mereka terhenyak, nyaris tak percaya dengan fakta yang mereka jumpai sendiri. Kondisi tersebut jelas sudah melebihi indikator status kejadian luar biasa (KLB).  Mengapa bisa segawat itu? Kompleksitas persoalan yang saling berkelindan seperti:
  1. belum ada rumah sebanyak 300 unit untuk warga 3 desa yaitu Melidi 166 unit, Tampor Paloh 98 unit, dan 36 unit untuk Tampor Boor.  Sudah 8 bulan pasca banjir bandang mereka masih tinggal di tenda-tenda darurat yang kainnya sudah lapuk, pengab, dan dingin jika hujan atau malam datang.
  2. belum mempunyai sumber air bersih 
  3. belum mempunyai sarana sanitasi seperti kamar mandi, jamban keluarga, dan saluran pembuangan air limbah sehingga alur sungai masih menjadi kamar mandi dan wc bagi semua orang
  4. belum ada layanan kesehatan yang memadai  karena mantri kesehatan dan bidan desa terbatas persediaan obat, sarana transportasi dan tunjangan kesejahteraannya
  5. belum mempunyai tanah untuk tapak rumah karena tapak rumah mereka tertimbun lumpur banjir dan trauma jika harus kembali tinggal di pinggir sungai
  6. belum mempunyai mekanisme ketahanan pangan sehingga masih sangat tergantung “raskin/beras untuk orang miskin” karena lahan pertanian pangan masih sempit dan bantuan bibit belum ada kecuali sedikit bibit padi dari Sheep untuk masyarakat Melidi
  7. belum mempunyai sumber mata pencaharian baru selain membalak hutan
  8. belum mendapatkan perhatian nyata dari pemerintah nyaris dalam semua hal 
Itulah ironi kemerdekaan………………..

Sahabat……..
Tanggal 20 Agustus kami memulai sekolah Merdeka. Ada 12 anak lulusan SD yang menjadi teman belajar kami pada hari pertama. Pada awalnya mereka sangat malu-malu, bahkan sekedar menyebut namanya sendiri nyaris tidak punya kepercayaan diri. Kami memulai belajar bersama dengan perkenalan, membangun harapan, dan kontrak belajar. Kami ingin anak-anak menjadi penentu atas apa yang ia rasakan, ia pikirkan, ia inginkan, dan ia butuhkan. Game-game dalam session perkenalan membuat suasana cair sehingga kami bisa masak air minum dan biji cempedak bersama di saat istirahat. Jika capai belajar kami membentuk lingkaran untuk saling memijit punggung. Sungguh kebahagiaan membuncah dalam diriku. ……..

Sahabat ……..
Hari kedua jumlah anak bertambah 4 sehingga teman belajar kami menjadi 16. Hari kedua dan ketiga kami belajar bahasa Arab, bahasa Indonesia, matematika, IPA, IPS, dll secara integral melalui studi kasus dari pengalaman keseharian anak-anak. Kami belajar di pokok kayu merbau besar yang tumbang saat banjir bandang sambil menikmati rebusan biji cempedak menu utama kami. Kami mulai dengan menulis pengalaman saat banjir datang hingga kehidupan selama dalam pengungsian yang kemudian dibacakan secara bergiliran. Tak lupa kami membuat simulasi banjir bandang dengan membuat gunung, hutan, sungai  dan perkampungan penduduk dengan tanah, ranting kayu dan rumput yang ada di pinggir sungai. Senang sekali  kami meskipun badan dan pakaian penuh lumpur.  Setelah itu kami mencoba mengidentifikasi persoalan, menganalisa sebab akibatnya dan mencoba mengambil hikmah dari peristiwa itu. Luar biasa….anak-anak kawan belajarku itu ternyata mempunyai kemampuan analisis yang paten. Aku terpesona dibuatnya…… Coba simak dialog kami:

Johansyah (anak Tampor Boor): “pak, ternyata penebangan hutan yang menyebabkan gunung gundul sehingga air hujan berubah menjadi banjir. Sungguh kami telah berbuat salah”  (ekspresinya  memelas)
Ust. Ali : “Kenapa kamu sedih nak?”
Johansyah : “saya ikut membalak kayu karena itulah satu-satunya pekerjaan keluarga kami dan juga penduduk lainnya”
Iswantara: “Nak, ini bukan soal salah dan benar. Menebang kayu boleh-boleh saja tetapi….”
Said Rabudin (anak Tampor Paloh): “ya menebang kayu boleh karena kita butuh rumah dan kayu bakar, juga untuk membuat boat. Yang tidak boleh adalah menjual kepada toke kayu dari Medan karena banjirnya mereka tidak ikut merasakan.  Kami susah, mereka kaya”  




Sahabat……
Kesadaran kritis itu kini telah mulai bersemi. Kami harus terus memupuknya. Kami kini berani membangun mimpi tentang masa depan yang indah karena kami kompak dan mau belajar  serta bekerja keras. Yel-yel kami…..
Anak Merdeka….
Tidak malu!.
Tidak takut!
Tidak malas!
Tetap semangat!
Merdeka !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Sahabat…………….
Orang tua anak-anak dengan semangat tinggi saat ini tengah membangun 2 ruang belajar dengan alasan “agar pak guru tidak kepanasan dan kehujanan”.  Kami terharu karena di tengah penderitaan akibat banjir bandang mereka masih memikirkan kami yang sebenarnya datang terpanggil oleh karena penderitaan mereka. Sungguh mereka telah menjadi orang yang paling kaya meski tak berpunya karena alam maha kaya dan mereka selalu bersahabat dengan alam itu. Coba simak Nyanyian Anak Merdeka yang menjadi mars “sekolah” kami dan beberapa orang tua juga sering ikut menyanyikannya:
Aku ini anak merdeka
Tak berpunya tapi merasa kaya
Semua di dunia milik bersama
Tuk dibagi sama adil dan merata
Kubawa-bawa matahariku
Kubagi-bagi layaknya ubi
Agar semua merasa bahagia

Sahabat……..
Doakan kami agar tetap istiqomah dalam berjuang mengentaskan kebodohan dan kemiskinan yang mendera sebagian anak negeri ini! Selain doa,  kami sungguh mengajakmu untuk terlibat dalam karya nyata, bermandi peluh dan lumpur untuk berbagi rasa demi membangun asa bersama.

Sahabat ………
Sekian dulu surat dari saya. Aku besok 29 Agustus hingga 2 September akan balik ke Melidi. Aku berjanji akan selalu menulis surat untuk kalian. Semoga ada learning point yang bisa kita petik bersama dari cerita perjalananku…….        

Merdeka!!!!!!!!!!!!

Langsa, 28 Agustus 2007
Salam persahabatan dan perdamaian


Iswantara Adi Nugraha

SMP Merdeka awal di desa Melidi

Sejak 2007 saya menjadi salah seorang pendamping anak di kecamatan Simpang Jernih desa Melidi pada awalnya. pasca banjir bandang 2006 di sungai tamiang menghanyutkan semua harta benda masyarakat desa ini jangan untuk sekolah, tempat tinggal saja masih di tenda darurat dengan segala kebutuhan hidup yang sangat memprihatinkan.
Sebelumnya saya adalah guru di yayasan Bustanul Fakri di kota Langsa dari tahun 2005 hingga akhirnya tawaran itupun sampai mengabdikan diri mendampingi anak - anak yang ingin melanjutkan sekolah ke SMP danYSI lah yang memfasilitasinya. Tak pernah terpikir sebelumnya menjadi guru di pedalaman di desa yang baru mengalami bencana alam yang dahsyat ini yang menghanyutkan semua rumah dan infrastruktur yang ada dan ini menimpa semua desa yang ada di pinggiran sungai tamiang.. dahsyat.
Pada tanggal 18 Agustus 2007 dengan Bismillah Rombongan pun berangkat menuju desa Melidi, dengan membawa perlengkapan logistik dan beberapa buku dan ATK buat belajar. Perjalanan ke hulu sungai Tamiang ini melalui jalan sungai selama 6 jam dari kuala simpang menuju desa Melidi.